Ketika saya akan pulang ke Bogor pada Jumat malam, tanggal 5 September atau bertepatan dengan 5 Ramadhan, ternyata perjalanan kereta sedang mengalami masalah. Menurut petugas stasiun Sudirman, rel Kereta yang bisa dilewati oleh KRL hanya 1 jalur mulai dari Stasiun Pasar Minggu sampai Stasiun Universitas Indonesia. Padahal jalur kereta ada 2 yaitu 1 jalur untuk KRL tujuan Jakarta dan 1 jalur lagi untuk KRL tujuan Bogor. Karena pemberlakuan 1 jalur ini, maka semua KRL jurusan Bogor dan Jakarta harus mengantri.
Petugas Stasiun Sudirman tidak menjelaskan mengapa hanya diberlakukan 1 jalur. Mereka hanya menjelaskan bahwa KRL terlambat dan hanya 1 jalur sejak jam 4 sore. Padahal saat itu saya mau naik KRL Ekspres Pakuan dengan jadual keberangkatan normal jam 7.25 malam. Pada jam tersebut, KRL Ekspres Pakuan tujuan Bogor masih berada di Stasiun Lenteng Agung menuju Stasiun Sudirman. Dari Stasiun Sudirman, KRL tersebut masih harus melanjutkan perjalanan ke Stasiun Serpong. Setelah itu baru kembali lagi ke Stasiun Sudirman. Menurut petugas Stasiun Sudirman, KRL tersebut baru akan tiba di Stasiun Sudirman jam 9 malam untuk melanjutkan perjalanan kembali ke Stasiun Bogor.
Waduh saya jadi bingung apakah akan naik bis atau menunggu kereta yang terlambat itu. Beberapa minggu yang lalu, tepatnya tanggal 26 Agustus, KRL juga bermasalah, KRL hanya bisa melewati 1 jalur. Waktu itu saya memilih untuk naik bis. Tapi ternyata naik bis jauh lebih merepotkan dan lebih lama sampai di Bogor. Dari Stasiun Sudirman saya harus kembali lagi menuju halte Dukuh Atas untuk naik bis TransJakarta menuju kuningan. Dari Kuningan, saya masih harus naik bis Patas 47 menuju ke UKI. Selanjutnya dari UKI saya naik bis yang ke Bogor. Waktu itu saya sampai di Bogor jam 10.30 malam. Dan ketika saya sampai di Bogor, saya melihat kereta Ekspress Pakuan juga melintas di depan saya. Yaaah…. nyesel deh naik bis
Di saat saya bingung untuk memilih apakah naik bis atau menunggu kereta yang belum kunjung datang, saya bertemu seorang teman saya yang akan naik kereta juga ke Bogor. Saya bilang ke teman saya itu bahwa saya mau naik bis saja. Tapi teman saya tidak mau karena menurutnya naik bis lama banget. Dia lebih memilih naik kereta saja. Akhirnya saya memutuskan untuk ikut teman saya naik kereta ke Bogor tapi harus ke Stasiun Serpong dulu dari Stasiun Sudirman.
Awalnya saya seneng banget bisa jalan-jalan dulu naik kereta ke Stasiun Serpong. Tapi perasaan senang itu hanya muncul sesaat. Ternyata lama juga perjalanan dari Stasiun Sudirman ke Stasiun Serpong dan kembali lagi ke Stasiun Sudirman. Seperti kata petugas Stasiun Sudirman, kereta tersebut tiba kembali di Stasiun Sudirman jam 9 malam untuk melanjutkan kembali ke Stasiun Bogor.
Hampir satu setengah jam berada di dalam kereta yang AC nya disetel dingiiiin banget, badan saya sampai membeku. Berada di dalam kereta seperti berada di dalam lemari es, brrr…. dingiiiiiiin bangeett. Sweater yang saya pakai tidak mampu untuk mengusir hawa dingin saat itu. Akibatnya perut saya mulai bernyanyi apalagi waktu magrib saya hanya buka puasa dengan 3 potong martabak AA dan seperempat gelas air teh hangat.
Setelah kereta saya sampai di Stasiun Manggarai, kereta saya masih harus menunggu antrian dari stasiun Tebet. Tidak hanya kereta saya saja yang harus mengantri, tapi ada juga kereta Ekspress Pakuan dari Stasiun Kota dengan tujuan Bogor yang sudah lebih dulu tiba di Stasiun Manggarai. Tidak lama kemudian, datang kereta Ekonomi dari Stasiun Kota tujuan Bogor yang harus menunggu antrian juga.
Kereta ekonomi tersebut dari jauh terlihat penuh sesak penumpangnya. Penumpang banyak yang berdiri berdempetan di dalam gerbong kereta itu. Bahkan banyak juga yang duduk-duduk di atas atap kereta. Melihat kondisi tersebut, saya sangat sedih. Namun, masih bersyukur karena walaupun saya kedinginan di kereta Ekspress Pakuan, saya masih bisa duduk dengan nyaman.
Beberapa menit kemudian, penumpang kereta Ekonomi ada yang berhamburan menuju kereta saya. Mereka memukul-mukul kaca pintu dan jendela kereta saya sambil berteriak “buka pintunyaaa !!!. Saat itu saya berada di gerbong 2 dari belakang dan ada seorang wanita dipojokan yang terlihat ketakutan. Wanita itu menutup tirai jendela yang ada di belakang tempat duduknya. Dalam hati saya berkata “jangan takut mba… mereka hanya ingin masuk kereta ini aja kok…” Saat itu suasana di dalam kereta saya menjadi tegang. Takut terjadi hal-hal yang tidak diinginkan.
Akhirnya, Bapak masinis yang baik hati membukakan seluruh pintu kereta Ekspress Pakuan yang saya naiki. Otomatis penumpang Kereta Ekonomi langsung berhamburan masuk kereta saya. Mereka berteriak-teriak memberi perintah ke penumpang Kereta Ekonomi lainnya untuk naik kereta saya. Alhamdulillah, suasana jadi tidak tegang lagi. Kereta saya jadi ramee dipadati oleh penumpang Kereta Ekonomi. Udara di dalam kereta jadi hangat. Namun sayang, pintu kereta saya yang seharusnya tertutup selama perjalanan dibuka oleh penumpang Kereta Ekonomi. Saya sangat menyayangkan ulah mereka. Padahal khan kereta Pakuan ada AC-nya tidak perlu udara dari luar. Ngeri juga pintu kereta dibuka, takut terkena lemparan batu dari luar. Yaaah mungkin mereka sudah terbiasa naik Kereta Ekonomi yang semua pintunya terbuka
Saya sampai di Stasiun Bogor kira-kira jam 11.30 malam. Fiuh… capeeek bangett. Padahal normalnya sampai Stasiun Bogor jam 08.30 malam. Tapi nggak apa-apalah secara tidak sengaja saya bisa merasakan naik KRL malam dan bisa jalan-jalan ke Serpong hehehe.
Dari Stasiun Bogor seharusnya saya naik angkutan kota. Saya memang sengaja tidak minta orang rumah untuk menjemput karena kasihan sudah larut malam. Ternyata angkutan kota yang menuju rumah saya tidak ada. Akhirnya saya terpaksa naik becak. Lumayan euy mahal naik becak, kena Rp. 20 ribu. Tapi mau gimana lagi toh saya harus pulang.
Dipikir-pikir naik becak ngeri juga soalnya sudah larut malam. Sepanjang jalan saya berdo’a supaya Allah SWT memberi perlindungan kepada saya. Dengan naik becak, saya jadi tau suasana Bogor di tengah malam: sepi, hanya ada beberapa orang yang nongkrong main kartu dan main gitar.
Ketika saya melewati pasar, banyak pedagang yang baru menurunkan sayuran dari mobil untuk dijual esok pagi. Di pasar tersebut, tiba-tiba becak saya berhenti. Waduh kenapa nih? Ternyata becak saya menabrak karung berisi kentang. Pemilik kentang tersebut berteriak ke tukang becak saya “Ati2 atuh mang… makanya pake kaca mata atuh..” Akhirnya pemilik kentang tersebut bersama 2 orang temannya membantu memundurkan becak menjauh dari karung kentang. Setelah itu, salah seorang temannya berteriak “mentang-mentang aya nu geulis mani 3 urang nu ngadorong” . Mendengar perkataan itu, saya jadi waspada dan berdo’a semoga mereka tidak macam-macam sama saya. Alhamdulillah, mereka ternyata tulus membantu dan tidak macam-macam sama saya. Fiuh… lega hati saya jadinya
Ternyata bener seperti yang dikatakan oleh tukang sayur di pasar tadi bahwa tukang becak saya penglihatannya kurang jelas. Buktinya, beberapa kali becak saya masuk ke dalam lubang besar. Waduh, untung becak saya tidak terbalik. Selain itu, ada juga mobil yang mengklakson becak saya yang ternyata becak saya berada ditengah-tengah jalan. Sejak itu, saya selalu waspada dan memberi petunjuk ke tukang becak itu kalau-kalau ada lubang atau mobil. Sampai akhirnya saya bisa tiba di rumah dengan selamat pada jam 12 malam (hiks … hiks)

Wah …. seru tuh. 7.25 – 11.30 bersama Pakuan … bisa nyampe Bandung tuh.
Pasti banyak cerita yang tidak terlupakan. Terutama ” pendudukan ” yang dilakukan oleh penggila “ekonomi”
# WP24
Seru?
klo sampe Bandung baru seru. Tp ini khan cuma sampe Bogor doank
Tapi emang sih byk cerita yg tidak terlupakan. Jarang2 ada cerita di pakuan soalnya. Yang paling banyak cerita di KRL ekonomi hahaha
Thx yah Wan dah ksh komen
Eugh… tau gitu mah atuh mending turun di Serpong. Tidur di rumah. Mani capek-capek balik deui ka Bagor mah.. Itu namanya bener : tua di jalan. Hehehehe……
# oyonk
Ups ! iya yah… gw lupa euy ada orang Serpong
Masalahnya gw sama temen gw, gak enak khan klo gw ninggalin dia. Heuh bener, tua di jalan euy
Ya ampyunnnn Mba Eni ngueeeriii amatttt… tapi alhamdulillah Mba Eni bisa pulang dengan selamat tanpa kekurangan suatu apapun
. Mending mah besok-besok kalo tau keretanya bakalan keliling2 mending nginep di Tebet aja dunk, hihihiihi…biar amannn….
# uq1e
Alhamdulillah gw selamat sampe rmh.
Bener kata ukie, lain kali klo kejadiannya ky gini lg gw usahain nginep di Tebet