Lama juga saya tidak turun di Stasiun Cikini karena beberapa bulan terakhir saya sering berangkat telat. Biasanya kalau telat saya turun di Stasiun Manggarai. Dari Stasiun Manggarai saya naik ojek ke kantor biar cepet sampai. Lumayan boros juga naik ojek.
Berhubung sekarang saya tidak kuat lagi berdesak-desakan di KRL ekonomi, maka saya harus pulang ke Bogor naik KRL ekspres pakuan. Nah untuk ngirit ongkos supaya bisa pulang naik KRL ekspres pakuan, sudah seminggu ini saya kembali rutin turun di Stasiun Cikini. Dari Stasiun Cikini saya naik bis kopaja P 20 ke kantor.
Sekarang peron Stasiun Cikini sudah terlihat asri. Banyak tanaman hias yang ditanam di pot-pot. Ada pula tanaman hias yang ditanam di pot-pot gantung. Setiap pagi saya lihat petugas menyirami tanaman-tanaman itu.
Untuk menuju pemberhentian bis P 20 ada 2 alternatif jalan yang bisa dilalui. Alternatif pertama adalah melewati lorong. Di lorong itu sekarang sudah banyak berubah. Terlihat asri karena ada tanaman hias yang ditanam di pot-pot disepanjang lorong itu. Tidak ada lagi pengemis. Tidak ada lagi tuna wisma yang tidur disepanjang lorong. Aroma bau pesing juga tidak tercium lagi. Di sebelah kanan sekarang sedang dibangun kios-kios. Pokoknya sekarang suasana di lorong itu tidak seseram dulu lagi deh
Alternatif jalan yang kedua adalah menuruni tangga. Dulu saya sering melewati jalan ini gara-gara dikasih tahu oleh sahabat saya, Awan. Dulu di bawah tangga ada yang jual gethuk lindri. Lumayan enak dan murah. Sebungkus harganya Rp 1000, isinya ada 4 gethuk. Lumayan buat cemilan pagi yang murah meriah. Gara-gara sahabat saya itu juga , saya jadi suka beli gethuk Cikini. Teman-teman kantor saya banyak yang suka kalau saya bawa oleh-oleh gethuk Cikini. Bahkan sewaktu saya sering turun di Stasiun Manggarai, saya sering ditanya oleh teman kantor saya yaitu pak Saiman dan Zae “kok gak pernah bawa gethuk lagi?”
Gethuk Cikini tersedia dalam aneka warna. Teman kantor saya, Uqie, lebih memilih warna pink sesuai warna favoritnya. Ada juga teman saya yang suka warna hijau. Waktu pertama kali saya beli gethuk Cikini, penjualnya adalah seorang wanita berkerudung yang menurut sahabat saya maniez seperti gethuk (ciyeh ciyeh). Tapi seminggu yang lalu, saya tidak melihat lagi tukang gethuk di bawah tangga Stasiun Cikini. Kemana yah?
Setelah melewati penjual gethuk, saya melewati warung Siomay Cikini. Sepertinya lumayan terkenal juga siomay ini. Sudah 2 kali Ramadhan, Siomay Cikini jadi salah satu menu buka puasa di kantor saya.
Selanjutnya di sebelah kiri jalan saya melewati Wartel, Rumah Makan Padang, kios-kios anyaman yang menjual pernak-pernik untuk parcel dan hantaran pengantin. Terakhir saya melewati kios-kios bunga segar yang harganya lebih murah dibandingkan toko florist yang sudah punya nama di Jakarta. Beberapa meter lagi dari kios bunga, akhirnya saya sampai juga ke tempat pemberhentian bis kopaja P 20 yang mengantarkan saya ke kantor
